Selasa, 20 Maret 2018

Kisah Nadia, Raup Laba dari Bisnis Bantal Duduk


TEMPO.CO, Jakarta - Masyarakat perkotaan yang bekerja di kantoran sudah pasti menghabiskan sebagian besar waktunya untuk duduk di kursi. Tak jarang, kursi yang digunakan kurang nyaman sehingga sangat mengganggu ketika harus berlama-lama duduk. Untuk menyiasati hal tersebut, orang-orang pun mulai memanfaatkan bantal untuk melapisi kursi sehingga lebih empuk dan duduk semakin nyaman. Situs Judi Online

Kebutuhan terhadap bantal duduk pun akhir-akhir ini terus meningkat. Tak hanya digunakan untuk melapisi kursi, bantal tersebut pun sering digunakan untuk alas duduk saat lesehan di lantai, bahkan menjadi pelengkap interior ruangan.

Melihat tren yang cenderung meningkat, akhirnya banyak produsen bantal yang mencoba mencari keuntungan. Mereka mulai memproduksi berbagai macam alas duduk, dari bentuk bantal hingga bean bag atau kantong besar berisi butiran styrofoam.

Keuntungan yang ditawarkan dari bisnis ini tidak bisa dibilang sedikit, bahkan modal awal yang dibutuhkan juga tidak terlalu besar. Pelaku usaha bisa memanfaatkan kain perca hingga memproduksi alas duduk sesuai keinginan konsumen.

Salah satu pelaku usaha yang menangkap peluang bisnis dari hal tersebut adalah Siti Nadia Emila. Ibu dua anak yang disapa Nadia ini sudah mulai memproduksi bantal duduk sejak 2014.

Namun, saat itu dia belum terpikir untuk menjadikannya sebagai sebuah bisnis, dia hanya membantu temannya yang ingin dibuatkan bantal untuk alas saat duduk di lantai.

Sebelumnya, bersama sang suami Nadia sudah berbisnis membuat bantal sketsa wajah tapi tidak dilanjutkan karena proses pengerjaan yang cukup rumit, sementara dia sedang hamil besar.

“Saya pun mencari alternatif pembuatan bantal yang proses pengerjaannya lebih mudah dan cepat, dan saat itu teringat dengan bantal duduk yang pernah dibuat,” kenangnya.

Nadia pun mulai mencoba mengembangkan bisnis pembuatan bantal duduk itu sejak awal 2015, dimulai dengan membuat sebuah bantal duduk.

Karena sebelumnya sudah berbisnis bantal, ibu dua anak itu sudah memiliki banyak sisa kain dan isian bantal, sehingga dia hanya perlu mengeluarkan modal sekitar Rp 200 ribu untuk menambah koleksi kain katun dan benang.

Saat itu, dia hanya membuat sebuah bantal yang dijadikan sebagai contoh dengan ukuran 40 cm x 40 cm. Bantal buatannya tersebut diambil gambarnya kemudian diunggah ke akun Instagram @naokiizza.

Tidak disangka-sangka, ternyata respons dari para netizen pengguna Instagram cukup baik. Pesanan pembuatan bantal duduk pun mulai berdatangan satu per satu dan terus berlanjut hingga sekarang.

Karena semua bantal duduk dibuat berdasarkan pesanan, maka konsumen bisa dengan leluasa memilih bahan dan motif kain yang ingin digunakan. Pemesan juga bisa meminta ukuran dan aksesori apa yang ingin ditambahkan pada bantal duduknya.

“Semua bantal duduk bisa dibuat personal dan unik sesuai dengan keinginan pemesan,” katanya.

Proses produksi semuanya masih dilakukan oleh Nadia sendiri, sehingga meskipun proses pembuatannya relatif mudah, tetapi konsumen harus antre dan melakukan pre-order dengan lama sekitar tiga-tujuh hari.

Dalam sebulan Nadia bisa mendapatkan pesanan hingga 200 bantal duduk. Jika permintaan meningkat, terkadang dia dibantu oleh ibu mertuanya agar semua pesanan bisa selesai tepat waktu.

Selain memproduksi bantal duduk dengan ukuran standar 40 cm x 40 cm yang dibanderol dengan harga Rp 40 ribu, sekarang dia juga memproduksi berbagai variasi bantal. Misalnya bantal ukuran 40 cm x 40 cm dengan tebal 8 cm seharga Rp 65 ribu, bantal bulat berdiameter 45 cm dan tebal 8 cm dengan harga Rp 70 ribu, dan bantal bentuk bunga berdiameter 45 cm dengan harga Rp 50 ribu.

“Saat ini omzet per bulan bisa mencapai Rp 12 juta dengan keuntungan sekitar 30 persen-40 persen,” katanya.

Nadia mengaku tidak memiliki strategi khusus untuk memasarkan produknya selain menggunakan akun media sosial. Dan ternyata, dari media tersebut audiensinya kebanyakan adalah para ibu muda yang senang mempercantik rumah.

“Untuk menyasar para ibu muda itu, saya mulai memperbanyak motif kain yang bertema shabby atau bunga-bunga yang banyak mereka sukai,” imbuhnya.

Selama menjalani bisnis ini, Nadia mengakui sangat terkendala oleh waktu dan tenaga karena semuanya masih dikerjakan sendiri. Untuk itu, sistem pre-order adalah salah satu strategi supaya dia bisa tetap menyesuaikan permintaan dengan kemampuan produksinya.

“Bila pesanan yang datang dirasa sudah terlampau banyak, pemesanan ditutup dulu,” imbuhnya.

Dalam waktu dekat, dia akan segera menambah tenaga kerja sehingga bisa mendukung rencana pengembangan bisnisnya untuk memproduksi stok bantal. Produk tersebut kemudian akan dipasarkan melalui website dan memanfaatkan reseller untuk memperluas pasar.

“Saya juga ingin memanfaatkan limbah kain perca supaya memiliki nilai jual,” ujarnya.

Dia melihat prospek bisnis dari pembuatan bantal duduk ini masih sangat menggiurkan, hal ini bisa dilihat dari mulai banyaknya kompetitor yang bermunculan dan menawarkan berbagai jenis bantal duduk.

Selain itu, bantal duduk ini juga memiliki banyak fungsi, selain berfungsi agar duduk lebih nyaman, dari segi estetika juga bisa digunakan sebagai dekorasi rumah, digunakan di kantor, bahkan di mobil, sehingga banyak dicari konsumen.

Karena konsumen sudah mulai diisuguhi berbagai macam pilihan, hal itu menjadi tantangan tersendiri untuk Nadia supaya tetap bisa menjadi pilihan utama konsumen. Caranya, dengan terus berinovasi dan tetap menjaga kualitas produk dan layanan. BANDAR POKER ONLINE


BandarQ Domino 99 Domino QQ Poker Online Terbaik Dan Terpercaya