Rabu, 22 Maret 2017

5 Ujian Berat yang Akan Kamu Hadapi Sebelum Memperoleh Kemapanan

Tags

Mapan tanpa perjuangan? Itu bisa terjadi kalau kamu anak raja

Menjadi mapan adalah dambaan setiap orang. Sayangnya, untuk mendapatkan yang semacam itu, usaha juga harus dilakukan. Seperti tulisan di atas, mapan tanpa usaha hanya akan terjadi jika kita terlahir sebagai anak raja. Walaupun kadang seorang raja pun takkan sekaligus memberikan semua kenikmatan.


Mapan memang bukan sebuah akhir, tapi bisa dibilang tujuan. Alhasil, untuk mencapai ke sana seseorang harus berusaha. Semakin cepat dan besar usahanya, maka ia serengkuh lebih dekat dengan mapan. Dalam perjalanannya, para pejuang kemapanan pun juga bakal dihadapkan dengan hal-hal menantang ini.

Penolakan

Kamu mungkin tak percaya jika di dunia ini ada orang-orang yang pernah mengalami penolakan berkali-kali. Tidak empat atau lima kali, tapi lebih dari 10 kali. Terkesan mustahil terjadi, tapi yang seperti itu memang benar-benar nyata. JK Rowling adalah salah satu orang hebat yang pernah mengalaminya. Kamu mungkin tak percaya, tapi sosok novelis fenomenal ini pernah mengalami sebanyak 13 kali penolakan. Luar biasa menyakitkan bukan? Tapi, Rowling tahan dengan itu. Ia berjuang terus sampai akhirnya novel hebatnya diterima dan perlahan-lahan dirinya menjadi salah satu wanita terkaya dunia.

Untuk hal yang serupa, sudah berapa kali kamu mengalami penolakan? Satu, dua, tiga? Kalau hanya segitu dan kamu sudah menyerah, maka usahamu belum benar-benar besar. Lakukan introspeksi dan tingkatkan kualitas. Banyaknya penolakan tak pernah jadi tolok ukur atau bagus atau tidak hasil karya kita. Tapi, itu bisa jadi standar tentang seberapa besar usaha yang pernah kita lakukan. Dalam mencapai kemapanan, penolakan-penolakan adalah hal yang sangat lumrah.

Dianggap remeh

Aristotle Onassis, pria ini adalah pengusaha dengan kekayaan triliunan yang pernah mengalami sakitnya dianggap remeh. Bukan oleh orang lain, tapi ayahnya sendiri. Ketika itu Onassis yang pola pikirnya sudah sangat bisnis, berseberangan dengan sang ayah yang hanya seorang petani. Akhirnya, muncul lah kata-kata sinis dan remeh dari sang ayah. Tapi, itu tak membuat Onassis down, ia justru semakin nekat dan percaya diri sampai akhirnya menjadi mapan dalam arti yang sesungguhnya. Ia punya pulau pribadi dan beberapa kapal mewah yang harganya bikin sakit jantung.

Sama seperti Onassis, kita pun juga jangan pernah peduli dengan pandangan orang lain. Terutama mereka yang merendahkan dan meremehkan kita. Jadikan tekanan itu menjadi semacam dendam baik untuk bisa lebih sukses. Onassis memulai karirnya lebih miris dari kita semua, tapi ia pada akhirnya bisa mencatatkan diri sebagai salah satu orang terkaya dunia.

Waktu yang terbuang untuk pekerjaan

Jangan pernah anggap waktu yang terbuang untuk pekerjaan adalah sesuatu yang sia-sia. Pasalnya, ini adalah bukti otentik dari wujud kerja dan kemauan keras kita. Hal tersebut juga jadi bukti, jika kita menyadari ketidakmampuan dan tengah merajut jalan menuju kemapanan. Untuk kasus ini, kita bisa contoh Bill Gates. Tahu kah kamu bahwa pria ini dulu pernah mengalami fase di mana ia hanya tidur 8 jam saja? Bukan, bukan dalam satu harinya, tapi seminggu. Bill melakukan ini di masa awal-awal berdirinya Microsoft.

Delapan jam dalam seminggu, berarti Bill hanya tidur kira-kira satu sampai dua jam dalam sehari. Sisa waktunya ia gunakan untuk bekerja dalam hal ini membangun Microsoft. Hasilnya sendiri bisa kita lihat sekarang. Microsoft jadi perusahaan besar dan Bill sekarang masih jadi orang terkaya di muka Bumi. Ketika kita ingin meraih mapan dan kemudian mengeluh gara-gara tidur hanya 5-6 jam, itu artinya sukses masih begitu jauh.

Dipaksa sederhana dan tentang kesabaran yang akan diuji

Ada satu kesamaan yang bisa kita temukan dari sosok Mark Zuckerberg, Steve Jobs maupun Bill Gates. Ya, hal tersebut tak lain adalah prinsip hidup mereka yang sederhana. Hal ini bisa kita lihat dari tampilan masing-masing orang itu, bahkan Mark Zuck bajunya ya itu-itu saja. Kamu mungkin berpikir kalau mereka bisa sesederhana itu lantaran sudah kaya. Mungkin saja, tapi pada kenyataannya sikap kesederhanaan mereka ditempa karena proses bukan hasil.

Kesederhanaan seperti itu sebenarnya adalah buah dari kesabaran yang teruji. Dalam kasus orang-orang sukses tadi, mereka dituntut untuk bersabar dalam berbagai hal. Misalnya lebih memilih membangun sistem daripada beli sepatu baru dan semacamnya. Habit yang berulang-ulang seperti itu akhirnya membuat mereka memiliki sikap sederhana yang luar biasa. Kita yang berusaha untuk mapan pun harus demikian. Bersabar dan bersederhana dulu sampai tiba waktunya. Mementingkan ego dan penampilan akan membuat kita bagus di luar tapi kosong di dalam. Perlente, tapi tidak punya duit.

We all Suck in The Begining

Slogan tersebut berlaku pada apapun yang sedang kamu jalani. Seseorang tidak akan langsung dilihat sebagai orang yang benar-benar berhasil sebelum dia mengalami proses jatuh bangun. Menurut Malcolm Gladwell dalam bukunya, setidaknya seseorang bakal menjadi ahli di bidangnya setelah menekuni pekerjaannya selama kurang lebih 10 ribu jam.

Jadi, sudah berapa jam kamu melewatkan waktu dalam bidangmu? Bila belum mencapai standar ala Gladwell, maka berusahalah terus. Sekali lagi, seseorang tidak akan langsung jago pada awalnya. Menjadi pro hanya akan terjadi setelah seseorang melewati banyak waktu pada bidang yang ditekuninya. Jika masih baru dan belum mahir, itu tidak masalah.
Hal-hal seperti inilah yang akan terjadi dalam proses menuju kemapanan. Ya, memang sama sekali tidak mudah tapi bukan hal yang mustahil terjadi. Terus berjuang dan yakinkan diri seperti orang-orang sukses lainnya. Setelah membaca ini tidak ada lagi ya yang merasa dirinya bakal gagal dalam proses menuju kemapanan? Domino QQ